BAHASA INDONESIA

SMP Nasional Kontraktor Production Sharing (KPS) Balikpapan

Cerpen

Tinggalkan komentar

Kado Buat Sang Guru

Karya : Umi Halifah

    Teng…teng …teng …. Aku benci dengan suara itu. Dua belas kali berdentang di waktu yang sama setiap malam membuat kupingku berdengung. Jantungku pernah mau copot ketika bunyi yang sama berdentang tepat dua belas kali di tengah malam, malam Jumat Kliwon. Kalau aku ingat lagi bisa-bisa air seniku menetes. Waktu itu tubuhku bergetar hebat, gigi-gigiku gemeretak menyatu berlomba mengeluarkan bunyi tek…tek…tek…tek, keringat dingin membanjir turun dari ubun-ubun, ke pipi kiri-kanan, tangan, terus sampai ke bawah di antara kedua pangkal paha. Ranjang kamarku bergoyang-goyang seperti ada gempa berkekuatan 7 skala Richter. Angin bertiup kencang masuk di sela-sela lubang di atas jendela. Angin itu memainkan gorden dan rambutku. Selanjutnya pandanganku menjadi kabur dan rongga mulutku tercekat. Tidak bisa lagi teriak memanggil mama atau Reza adik bungsuku yang tidur di kamar sebelah.

    Sekarang saatnya datang lagi. Malam Jumat Kliwon, malam yang dianggap keramat karena bergentayangannya para demit. Bahkan teman-temanku sendiri sering bercerita seputar kejadian-kejadian malam itu. Cerita itu bagiku hanya bohong belaka. Aku tetap tidak percaya!

    “Hei, aku menunggumu! Datanglah, aku tidak takut lagi. Mana anginmu?”

    Teng … teng … teng …. dua belas kali berdentang. Pur mencium aroma asing yang menakutkan.

“Jangan,jangan….

“tidak! ”

Pur tiba-tiba meloncat bersama kesombongannya. Pur sembunyi di balik selimut tebal yang terbuat dari bulu angsa ‘made in’ luar negeri. Selimut tebal itu bergetar hebat mengikuti irama detak jantungnya, naik-turun berdegup kencang. Sambil tertelungkup bersujud di balik selimut, Pur memeluk guling kesayangannya ibarat teman yang mencari perlindungan. Angin kencang dan suara bising dari guguran daun sukun di halaman rumahnya sampai juga ke telinganya. Angin membuat irama konser turunnya para demit seperti ‘back ground’ film horor di televisi. Kengerian semakin jelas membuat bulu kuduknya berdiri. Kata orang ini pertanda ada makhluk halus.

“Tidak…tidak… tidak!

Andai saja dia patuh dengan orang tuanya, pasti tidak ada kejadian begini. Andai saja dia tidak ‘mengerjai’ guru mengajinya, pasti dia tidak akan mengalami mimpi buruk seperti ini. Oh, andai saja…andai saja dia tidak merasa sok jagoan, pastilah dia tidak begini. Dengan sedikit frustasi Pur berkata, andai saja dia menutup kedua lubang telingannya setiap menjelang tidur pasti dia tidak mendengar segala macam yang membuat jantungnya mau copot. Belum usai catatan-catatan kesalahan yang pernah dibuatnya berhimpit di balik ingatan dan selimut tebal yang menggulung dirinya, tiba-tiba Pur melotot sejadi-jadinya. Bola matanya hampir saja keluar, takjub dengan sesuatu yang terlihat dari sela-sela sesaknya gulungan selimut. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, rambutnya basah seperti habis keramas. Degup jantungnya semakin jelas berirama, irama keras musik rock anak muda. Musik rock yang bermain di antara kuburan tua. Seram! Pur melihat sepasang kaki bersepatu hitam berlumpur menghampirinya. Kaki itu hanya sebatas lutut.Kaki itu berusaha dekat dengannya, mencari kesombongan yang melekat di wajahnya. Sebelah kaki dengan sepatu hitam berpijak di lantai dan yang satunya lagi terus berayun-ayun mencari kesempatan untuk menendangnya, menendang Pur keluar dari selimutnya. Pur terus berjuang bertahan sekuat-kuatnya serupa mengangkat beban seratus kilo di pundaknya.Sepasang kaki dengan sepatu berlumpur yang bagian depannya ‘keroak’ seperti digigit binatang pengerat. Sepasang kaki dengan sepatu berlumpur hanya sampai selutut selalu menjadi mimpi buruknya. Walaupun sepatu itu tidak pernah mengenai wajahnya tetapi Pur sangat tersiksa. Hampir setiap malam Pur tidak bisa tidur gara-gara hal itu. Milik siapakah sepatu itu?

    Hari ini Jumat, tanggal satu. Ini Jumat yang pertama untuk awal bulan keempat tahun ini. Setiap hari Jumat, seperti biasa jam pertama dan kedua di sekolah, diisi dengan pelajaran ‘spritual depelovment’. Pada kesempatan ini siswa muslim belajar mengaji dengan guru mengaji sedangkan nasrani beribadah dengan guru nasraninya. Guru mengaji di kelas Pur bernama pak Romli. Orangnya sabar dan lucu. Mungkin karena kesabarannya itulah teman-teman sering kelewatan bahkan ‘mengerjai’ pak Romli. Pak Romli bukan guru tetap di sekolah. Beliau hanya datang setiap hari Jumat untuk memberikan pelajaran mengaji. Sehari-harinya beliau menghabiskan waktu di TPA mesjid di pinggiran kota. Kesehariannya yang demikian membuat pak Romli hidup sederhana, apa adanya. Dalam keadaan susah, beliau tetap bersahaja. Penampilan yang sangat sederhana ini terasa kontras dengan keadaan sekolah yang megah, kelas ber-AC dengan berbagai fasilitas.

Sekolahku adalah sekolah swasta ternama di Balikpapan. Sekolahku dibiayai oleh tiga perusahaan minyak terkemuka. Kehidupanku sendiri pastilah sangat berlebihan karena ayahku bekerja di perusahaan minyak sebagai kepala operator di lokasi Senipah.Setiap orang yang tahu keberadaan sekolahku pastilah berdecak kagum. Mereka bilang sekolahku sekolahnya anak orang kaya. Perkataan yang demikian bagiku tidaklah berlebihan, memang benar keadaannya. Kuakui sesungguhnya aku tidak suka dengan omongan itu. Ada satu kegelisahan di balik perkataan itu. Lama-lama perasaanku, kepekaanku bisa musnah. Aku tidak bisa merasakan keibaan yang sesungguhnya. Si Doni, Risky, Elang, Mutia, dan si…si… yang lainnya semua anak orang kaya. Seragam sekolahnya lengkap, tas dan sepatunya bagus dan mahal.

Bel sekolah untuk yang pertama di pagi ini sudah berbunyi. Kami semua memasuki ruang kelas masing-masing dengan guru mengaji masing-masing sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Di kelas aku duduk berdekatan dengan Elang, Risky, dan Doni. Biasanya kami tidak pernah serius mengikutinya. Kami hanya sibuk mengamati pak Romli untuk sesekali menertawakannya. Dan pagi ini beliau memanggil kami satu persatu ke depan kelas untuk hafalan surah Al-Alaq yang lumayan panjang bagi kami. Aku dan teman-temanku selalu menjadi yang pertama untuk dipanggil. Sentimen atau karena kami sering tidak memperhatikan sehingga kami selalu dijadikan yang pertama. Tiba-tiba saja pak Romli memulai dengan panggilannya yang lemah lembut.

“Pur, maju ke depan. Hafalkan surah Al-Alaq dan artinya. Perhatikan panjang-pendeknya. Bapak tidak mau mendengar kamu salah dalam mengucapkannya. Ingat Pur, untuk surah Al-Alaq ini, kamu sudah tiga kali maju dalam waktu tiga minggu. Ini kesempatan terakhir. Kalau tidak hafal juga, bapak akan menghubungi wali kelasmu.”

Mendengar ucapan pak Romli, Pur menjadi gagu, gagap, ucapannya tidak jelas. Kalimat surahnyapun tidak runtut. Bukan rona kecemasan yang dipamerkan ke hadapan pak Romli dan teman-temannya di kelas, tetapi Pur tertawa-tawa sendiri seolah mengejek pak Romli yang mulai penasaran dengan kelakuan si biang kerok, biang ribut, biang onar, dan biang-biang yang lain di kelas dan di sekolah ini. Kelakuan Pur yang demikian, sontak membuat pak Romli marah. Pur mendapat peringatan! Mendengar hal itu Pur berlari ke luar tanpa menghiraukan kami dan pak Romli.

Bel berakhirnya pelajaran pertama ini berbunyi nyaring. Kami mengucapkan salam kepada pak Romli. Sementara itu Pur tidak juga kembali ke kelas. Pur sungguh keterlaluan. Beberapa menit setelah pak Romli ke luar, Pur muncul dari balik tembok yang menyekat koridor dan toilet siswa. Pur bersiul-siul kecil. Teman-temannya dibuat heran. Ada apa gerangan?

Pur memasuki ruang kelas tanpa rasa bersalah. Senyum kecil, senyum tanda kemenangan terlihat di balik bibirnya. Kemenangan apa? Apakah karena sudah berani melawan guru? Apakah karena sudah merasa seperti jagoan? Sedikitpun dia tidak menunjukan rasa penyesalan apalagi bersalah. Sementara itu pak Romli berlalu dan semakin lama sosoknya hilang di balik tembok sekolah. Ada kejanggalan dalam langkah-langkahnya. Beliau terlihat pincang, sepertinya ada ketidaknyamanan di rongga sepatunya yang sebelah kanan. Di rongga itu ada bekas gumpalan gorengan dan walaupun dia sudah membuangnya namun masih tersisa minyak-minyaknya. Kenyataan ini tidak membuatnya berpikiran negatif tentang seseorang walaupun dia bisa saja menuduh bahwa ada seseorang yang dengan sengaja memasukkan sesuatu ke dalam sepatunya.

Pagi itu kira-kira sekitar pukul 10.00 WITA pak Romli pulang dengan sepeda motor menuju rumahnya. Sepeda motor butut keluaran tahun 90-an. Sesampainya di rumah dia masih penasaran dan dengan kesabarannya pelan-pelan dilapnya sisa-sisa minyak di dalam rongga sepatu itu. Sepatu kenang-kenangan yang dibeli dari hasil jerih payahnya menjadi guru honor di sekolah. Sepatu yang mulai usang di makan usia. Kalau toh masih terlihat mengkilap, hal itu karena dia rajin menyemirnya. Setelah dibersihkan, sepatu itu kemudian ditaruhnya dengan posisi berdiri tegak di rak sepatu pojok rumahnya.

Di dalam kamar, Pur mulai menghitung hari. Dia merasa waktu berjalan lambat sekali. Dia ingin hari Jumat segera datang menghampirinya. Dia tidak sabar ingin melihat pak Romli. Dia ingin membuktikan bahwa usahanya ‘mengerjai’ pak Romli tidak sia-sia. Dia ingin melihat, apakah pak Romli mengenakan sepatu yang sama seperti waktu itu.

Tiba-tiba saja bunyi telepon genggam membuyarkan lamunannya. Elang mengabarkan bahwa pak Romli mendapat kecelakaan. Keadaan pak Romli sangat parah sehingga harus dirawat di ruang ICU ( Intensive Care
Unit). Pur gemetar,ingat kesalahan-kesalahan yang telah dibuatnya.

Tiga hari kemudian barulah Pur, Elang, dan Risky punya keberanian membesuk pak Romli. Di rumah sakit mereka bertemu dengan beberapa guru dan teman-teman sekolahnya. Untuk melihat keadaan pak Romli mereka harus antri satu persatu. Pur menitikkan air mata. Baru kali ini dia merasa sangat sedih. Guru yang selama ini dianggapnya cerewet terbujur tak berdaya. Kenyataan yang belum dapat diterimanya ketika mengetahui pak Romli menderita patah tulang belakang. Sudah dapat diduga apa yang selanjutnya terjadi pada beliau.

“Maafkan Pur, pak Romli! Selama ini Pur selalu mengolok-olok bapak. Selama ini Pur memang tidak pernah patuh kepada bapak. Pur sangat menyesal telah menyia-nyiakan kesempatan belajar bersama bapak. Walaupun pak Romli diam mematung, Pur tahu beliau mendengarnya. Tiba-tiba Pur merasa sangat dekat dengan guru mengajinya, guru yang sebelumnya sangat dibencinya. Pur melihat ada tetesan air yang mengalir, perlahan membasahi wajah gurunya. Guru yang sabar, guru yang selalu mendidik siswanya agar menjadi orang yang rendah hati.

Malam-malam berikutnya Pur amat gelisah. Penyesalan memang tidak cukup untuk menebus semua kesalahan yang telah dibuatnya. Pur harus berbuat sesuatu. Berbuat apa? Tiba-tiba Pur teringat buku tabungan yang disimpan di lemari. Uang tabungannya lumayan besar. Dia ingin berbuat sesuatu untuk guru tercintanya.

Hari sudah menjelang sore ketika mereka tiba di halaman rumah yang sangat sederhana. Rumah itu terbuat dari kayu dan diperkirakan sudah berumur puluhan tahun. Dari kondisi bangunannya kayu-kayunya terlihat sudah banyak yang lapuk dan terkesan mau roboh. Kami disambut oleh isteri pak Romli. Di sudut kamar, pak Romli terbaring lemah, wajahnya terlihat pucat. Dengan hati-hati Pur menghampiri gurunya yang tak berdaya. Pur memperlihatkan sebuah kursi roda yang baru saja dibelinya dari sebuah toko. Pur merasakan kebahagiaan yang luar biasa ketika melihat pak Romli tersenyum kepadanya. Dalam waktu yang bersamaan tanpa sengaja Pur menatap sebuah rak yang di atasnya berdiri tegak sepasang sepatu hitam yang sudah sangat dikenalnya. Betapa kagetnya ketika dia melihat ada sesuatu yang ‘janggal’ pada sepatu itu. Inikah jawaban dari kejadian aneh yang menimpanya? Sekarang Pur tahu mengapa sepatu itu selalu mengganggunya setiap pukul dua belas malam.

Hari-hari berikutnya adalah hari-hari kerinduannya pada datangnya hari Jumat. Dia rindu pada pak Romli. Dia rindu menjadi orang pertama yang dipanggil untuk hafalan surah Al-Alaq. Dan dia rindu pada sepasang sepatu yang ujungnya ‘keroak‘ dimakan binatang pengerat. Sekuat apapun teriaknya, pak Romli tidak pernah datang lagi ke sekolah untuk mengajarinya mengaji. Pur baru menyadari arti dari sebuah kehilangan. Kehilangan seorang guru yang semula tidak berarti baginya.

 

***********************UH***********************

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s