BAHASA INDONESIA

SMP Nasional Kontraktor Production Sharing (KPS) Balikpapan


Tinggalkan komentar

Cerpen

Kado Buat Sang Guru

Karya : Umi Halifah

    Teng…teng …teng …. Aku benci dengan suara itu. Dua belas kali berdentang di waktu yang sama setiap malam membuat kupingku berdengung. Jantungku pernah mau copot ketika bunyi yang sama berdentang tepat dua belas kali di tengah malam, malam Jumat Kliwon. Kalau aku ingat lagi bisa-bisa air seniku menetes. Waktu itu tubuhku bergetar hebat, gigi-gigiku gemeretak menyatu berlomba mengeluarkan bunyi tek…tek…tek…tek, keringat dingin membanjir turun dari ubun-ubun, ke pipi kiri-kanan, tangan, terus sampai ke bawah di antara kedua pangkal paha. Ranjang kamarku bergoyang-goyang seperti ada gempa berkekuatan 7 skala Richter. Angin bertiup kencang masuk di sela-sela lubang di atas jendela. Angin itu memainkan gorden dan rambutku. Selanjutnya pandanganku menjadi kabur dan rongga mulutku tercekat. Tidak bisa lagi teriak memanggil mama atau Reza adik bungsuku yang tidur di kamar sebelah.

    Sekarang saatnya datang lagi. Malam Jumat Kliwon, malam yang dianggap keramat karena bergentayangannya para demit. Bahkan teman-temanku sendiri sering bercerita seputar kejadian-kejadian malam itu. Cerita itu bagiku hanya bohong belaka. Aku tetap tidak percaya!

    “Hei, aku menunggumu! Datanglah, aku tidak takut lagi. Mana anginmu?”

    Teng … teng … teng …. dua belas kali berdentang. Pur mencium aroma asing yang menakutkan.

“Jangan,jangan….

“tidak! “

Pur tiba-tiba meloncat bersama kesombongannya. Pur sembunyi di balik selimut tebal yang terbuat dari bulu angsa ‘made in’ luar negeri. Selimut tebal itu bergetar hebat mengikuti irama detak jantungnya, naik-turun berdegup kencang. Sambil tertelungkup bersujud di balik selimut, Pur memeluk guling kesayangannya ibarat teman yang mencari perlindungan. Angin kencang dan suara bising dari guguran daun sukun di halaman rumahnya sampai juga ke telinganya. Angin membuat irama konser turunnya para demit seperti ‘back ground’ film horor di televisi. Kengerian semakin jelas membuat bulu kuduknya berdiri. Kata orang ini pertanda ada makhluk halus.

“Tidak…tidak… tidak!

Andai saja dia patuh dengan orang tuanya, pasti tidak ada kejadian begini. Andai saja dia tidak ‘mengerjai’ guru mengajinya, pasti dia tidak akan mengalami mimpi buruk seperti ini. Oh, andai saja…andai saja dia tidak merasa sok jagoan, pastilah dia tidak begini. Dengan sedikit frustasi Pur berkata, andai saja dia menutup kedua lubang telingannya setiap menjelang tidur pasti dia tidak mendengar segala macam yang membuat jantungnya mau copot. Belum usai catatan-catatan kesalahan yang pernah dibuatnya berhimpit di balik ingatan dan selimut tebal yang menggulung dirinya, tiba-tiba Pur melotot sejadi-jadinya. Bola matanya hampir saja keluar, takjub dengan sesuatu yang terlihat dari sela-sela sesaknya gulungan selimut. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, rambutnya basah seperti habis keramas. Degup jantungnya semakin jelas berirama, irama keras musik rock anak muda. Musik rock yang bermain di antara kuburan tua. Seram! Pur melihat sepasang kaki bersepatu hitam berlumpur menghampirinya. Kaki itu hanya sebatas lutut.Kaki itu berusaha dekat dengannya, mencari kesombongan yang melekat di wajahnya. Sebelah kaki dengan sepatu hitam berpijak di lantai dan yang satunya lagi terus berayun-ayun mencari kesempatan untuk menendangnya, menendang Pur keluar dari selimutnya. Pur terus berjuang bertahan sekuat-kuatnya serupa mengangkat beban seratus kilo di pundaknya.Sepasang kaki dengan sepatu berlumpur yang bagian depannya ‘keroak’ seperti digigit binatang pengerat. Sepasang kaki dengan sepatu berlumpur hanya sampai selutut selalu menjadi mimpi buruknya. Walaupun sepatu itu tidak pernah mengenai wajahnya tetapi Pur sangat tersiksa. Hampir setiap malam Pur tidak bisa tidur gara-gara hal itu. Milik siapakah sepatu itu?

    Hari ini Jumat, tanggal satu. Ini Jumat yang pertama untuk awal bulan keempat tahun ini. Setiap hari Jumat, seperti biasa jam pertama dan kedua di sekolah, diisi dengan pelajaran ‘spritual depelovment’. Pada kesempatan ini siswa muslim belajar mengaji dengan guru mengaji sedangkan nasrani beribadah dengan guru nasraninya. Guru mengaji di kelas Pur bernama pak Romli. Orangnya sabar dan lucu. Mungkin karena kesabarannya itulah teman-teman sering kelewatan bahkan ‘mengerjai’ pak Romli. Pak Romli bukan guru tetap di sekolah. Beliau hanya datang setiap hari Jumat untuk memberikan pelajaran mengaji. Sehari-harinya beliau menghabiskan waktu di TPA mesjid di pinggiran kota. Kesehariannya yang demikian membuat pak Romli hidup sederhana, apa adanya. Dalam keadaan susah, beliau tetap bersahaja. Penampilan yang sangat sederhana ini terasa kontras dengan keadaan sekolah yang megah, kelas ber-AC dengan berbagai fasilitas.

Sekolahku adalah sekolah swasta ternama di Balikpapan. Sekolahku dibiayai oleh tiga perusahaan minyak terkemuka. Kehidupanku sendiri pastilah sangat berlebihan karena ayahku bekerja di perusahaan minyak sebagai kepala operator di lokasi Senipah.Setiap orang yang tahu keberadaan sekolahku pastilah berdecak kagum. Mereka bilang sekolahku sekolahnya anak orang kaya. Perkataan yang demikian bagiku tidaklah berlebihan, memang benar keadaannya. Kuakui sesungguhnya aku tidak suka dengan omongan itu. Ada satu kegelisahan di balik perkataan itu. Lama-lama perasaanku, kepekaanku bisa musnah. Aku tidak bisa merasakan keibaan yang sesungguhnya. Si Doni, Risky, Elang, Mutia, dan si…si… yang lainnya semua anak orang kaya. Seragam sekolahnya lengkap, tas dan sepatunya bagus dan mahal.

Bel sekolah untuk yang pertama di pagi ini sudah berbunyi. Kami semua memasuki ruang kelas masing-masing dengan guru mengaji masing-masing sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Di kelas aku duduk berdekatan dengan Elang, Risky, dan Doni. Biasanya kami tidak pernah serius mengikutinya. Kami hanya sibuk mengamati pak Romli untuk sesekali menertawakannya. Dan pagi ini beliau memanggil kami satu persatu ke depan kelas untuk hafalan surah Al-Alaq yang lumayan panjang bagi kami. Aku dan teman-temanku selalu menjadi yang pertama untuk dipanggil. Sentimen atau karena kami sering tidak memperhatikan sehingga kami selalu dijadikan yang pertama. Tiba-tiba saja pak Romli memulai dengan panggilannya yang lemah lembut.

“Pur, maju ke depan. Hafalkan surah Al-Alaq dan artinya. Perhatikan panjang-pendeknya. Bapak tidak mau mendengar kamu salah dalam mengucapkannya. Ingat Pur, untuk surah Al-Alaq ini, kamu sudah tiga kali maju dalam waktu tiga minggu. Ini kesempatan terakhir. Kalau tidak hafal juga, bapak akan menghubungi wali kelasmu.”

Mendengar ucapan pak Romli, Pur menjadi gagu, gagap, ucapannya tidak jelas. Kalimat surahnyapun tidak runtut. Bukan rona kecemasan yang dipamerkan ke hadapan pak Romli dan teman-temannya di kelas, tetapi Pur tertawa-tawa sendiri seolah mengejek pak Romli yang mulai penasaran dengan kelakuan si biang kerok, biang ribut, biang onar, dan biang-biang yang lain di kelas dan di sekolah ini. Kelakuan Pur yang demikian, sontak membuat pak Romli marah. Pur mendapat peringatan! Mendengar hal itu Pur berlari ke luar tanpa menghiraukan kami dan pak Romli.

Bel berakhirnya pelajaran pertama ini berbunyi nyaring. Kami mengucapkan salam kepada pak Romli. Sementara itu Pur tidak juga kembali ke kelas. Pur sungguh keterlaluan. Beberapa menit setelah pak Romli ke luar, Pur muncul dari balik tembok yang menyekat koridor dan toilet siswa. Pur bersiul-siul kecil. Teman-temannya dibuat heran. Ada apa gerangan?

Pur memasuki ruang kelas tanpa rasa bersalah. Senyum kecil, senyum tanda kemenangan terlihat di balik bibirnya. Kemenangan apa? Apakah karena sudah berani melawan guru? Apakah karena sudah merasa seperti jagoan? Sedikitpun dia tidak menunjukan rasa penyesalan apalagi bersalah. Sementara itu pak Romli berlalu dan semakin lama sosoknya hilang di balik tembok sekolah. Ada kejanggalan dalam langkah-langkahnya. Beliau terlihat pincang, sepertinya ada ketidaknyamanan di rongga sepatunya yang sebelah kanan. Di rongga itu ada bekas gumpalan gorengan dan walaupun dia sudah membuangnya namun masih tersisa minyak-minyaknya. Kenyataan ini tidak membuatnya berpikiran negatif tentang seseorang walaupun dia bisa saja menuduh bahwa ada seseorang yang dengan sengaja memasukkan sesuatu ke dalam sepatunya.

Pagi itu kira-kira sekitar pukul 10.00 WITA pak Romli pulang dengan sepeda motor menuju rumahnya. Sepeda motor butut keluaran tahun 90-an. Sesampainya di rumah dia masih penasaran dan dengan kesabarannya pelan-pelan dilapnya sisa-sisa minyak di dalam rongga sepatu itu. Sepatu kenang-kenangan yang dibeli dari hasil jerih payahnya menjadi guru honor di sekolah. Sepatu yang mulai usang di makan usia. Kalau toh masih terlihat mengkilap, hal itu karena dia rajin menyemirnya. Setelah dibersihkan, sepatu itu kemudian ditaruhnya dengan posisi berdiri tegak di rak sepatu pojok rumahnya.

Di dalam kamar, Pur mulai menghitung hari. Dia merasa waktu berjalan lambat sekali. Dia ingin hari Jumat segera datang menghampirinya. Dia tidak sabar ingin melihat pak Romli. Dia ingin membuktikan bahwa usahanya ‘mengerjai’ pak Romli tidak sia-sia. Dia ingin melihat, apakah pak Romli mengenakan sepatu yang sama seperti waktu itu.

Tiba-tiba saja bunyi telepon genggam membuyarkan lamunannya. Elang mengabarkan bahwa pak Romli mendapat kecelakaan. Keadaan pak Romli sangat parah sehingga harus dirawat di ruang ICU ( Intensive Care
Unit). Pur gemetar,ingat kesalahan-kesalahan yang telah dibuatnya.

Tiga hari kemudian barulah Pur, Elang, dan Risky punya keberanian membesuk pak Romli. Di rumah sakit mereka bertemu dengan beberapa guru dan teman-teman sekolahnya. Untuk melihat keadaan pak Romli mereka harus antri satu persatu. Pur menitikkan air mata. Baru kali ini dia merasa sangat sedih. Guru yang selama ini dianggapnya cerewet terbujur tak berdaya. Kenyataan yang belum dapat diterimanya ketika mengetahui pak Romli menderita patah tulang belakang. Sudah dapat diduga apa yang selanjutnya terjadi pada beliau.

“Maafkan Pur, pak Romli! Selama ini Pur selalu mengolok-olok bapak. Selama ini Pur memang tidak pernah patuh kepada bapak. Pur sangat menyesal telah menyia-nyiakan kesempatan belajar bersama bapak. Walaupun pak Romli diam mematung, Pur tahu beliau mendengarnya. Tiba-tiba Pur merasa sangat dekat dengan guru mengajinya, guru yang sebelumnya sangat dibencinya. Pur melihat ada tetesan air yang mengalir, perlahan membasahi wajah gurunya. Guru yang sabar, guru yang selalu mendidik siswanya agar menjadi orang yang rendah hati.

Malam-malam berikutnya Pur amat gelisah. Penyesalan memang tidak cukup untuk menebus semua kesalahan yang telah dibuatnya. Pur harus berbuat sesuatu. Berbuat apa? Tiba-tiba Pur teringat buku tabungan yang disimpan di lemari. Uang tabungannya lumayan besar. Dia ingin berbuat sesuatu untuk guru tercintanya.

Hari sudah menjelang sore ketika mereka tiba di halaman rumah yang sangat sederhana. Rumah itu terbuat dari kayu dan diperkirakan sudah berumur puluhan tahun. Dari kondisi bangunannya kayu-kayunya terlihat sudah banyak yang lapuk dan terkesan mau roboh. Kami disambut oleh isteri pak Romli. Di sudut kamar, pak Romli terbaring lemah, wajahnya terlihat pucat. Dengan hati-hati Pur menghampiri gurunya yang tak berdaya. Pur memperlihatkan sebuah kursi roda yang baru saja dibelinya dari sebuah toko. Pur merasakan kebahagiaan yang luar biasa ketika melihat pak Romli tersenyum kepadanya. Dalam waktu yang bersamaan tanpa sengaja Pur menatap sebuah rak yang di atasnya berdiri tegak sepasang sepatu hitam yang sudah sangat dikenalnya. Betapa kagetnya ketika dia melihat ada sesuatu yang ‘janggal’ pada sepatu itu. Inikah jawaban dari kejadian aneh yang menimpanya? Sekarang Pur tahu mengapa sepatu itu selalu mengganggunya setiap pukul dua belas malam.

Hari-hari berikutnya adalah hari-hari kerinduannya pada datangnya hari Jumat. Dia rindu pada pak Romli. Dia rindu menjadi orang pertama yang dipanggil untuk hafalan surah Al-Alaq. Dan dia rindu pada sepasang sepatu yang ujungnya ‘keroak‘ dimakan binatang pengerat. Sekuat apapun teriaknya, pak Romli tidak pernah datang lagi ke sekolah untuk mengajarinya mengaji. Pur baru menyadari arti dari sebuah kehilangan. Kehilangan seorang guru yang semula tidak berarti baginya.

 

***********************UH***********************


Tinggalkan komentar

Puisi-puisi Umi Halifah (Yuhin)

Ncarang ngan Bisu Sama Maha

Polahannya : Umi Halifah

 Beelang ke rumah Tuan yang suci            

         Rangkanya tebuat ngan besi                                     

Ngan kubah menjulang tinggi

Di benua halus sikit bepenghuni

 Nyawa menai’i anak tanggaNgan menyimpan harap wan tanyaTiba-tiba dindingnya terasa

Tahu ada nya meraba

 Wayah ni nyawa berada di hujjung jalan                         Di atas aspal jalan nya marrangUrang                                bejengkat-jengkat bejalan                                           Takut ngan marrang

 Nyawa belaju bejalan                                                    Nyawa singgah di pusara                                             Hujjung pejalanan nya dodong

Suatu saat pasti nyawa kan ke sana

Di pusara hujjung jawab segala nya betanya                        Ncarang ngan bisu saja sama maha                     

Nyawa yang banyak betanya

Ndik berani lagi ncarang Kerna ncarang ngan bisu sama maha   

Balikpapan, Maret 2002

Puisi lahir ketika penulis dihadapkan pada satu pertanyaan tentang hakikat hidup dan Kebesaran Sang Pencipta

 

                                                                 


Tinggalkan komentar

Nyanyian Peminta-Minta                            

                Karya : Umi Halifah 

Mentari siang itu benar-benar menampakkan wujudnya                                            

Panas menyengat wajah pejalan kaki                                                                         

 Di balik awan dari jauh samar-samar terlihat menguning

Aroma khas siang hari menyembul dari balik ketiak para peminta

Mereka berjajar di depan etalase toko

Baju usang dengan ornamen tambalan warna-warni

Badan ringkih wajah dilipat dengan suara agak serak 

Saling berebut mencuri pandang

Siapa tahu ada yang dermawan

Siapa tahu ada simpati

Di hati bapak-bapak  berdasi

Bayang siang itu sudah setinggi galah

Keringat sudah sampai sebutir jagung

Tak ada yang beringsut pergi

Kaleng susu berkarat setia menemani 

Berkumandanglah nyanyian siang hari

Kasihanilah Pak!

Kasihanilah Bu!

Kasihanilah Dek!

Kasihanilah Aku Pak Walikota!

Kasihanilah Aku Pak Gubernur!

Kasihanilah Aku Pak Menteri!

Kasihanilah Aku Pak Presiden!

Kasihanilah Aku Negaraku! 

Tak ada yang peduli karena mereka memang sudah tak berhati

 Oh kemana suara hatimu?

Aku adalah milikmu!

Yang seharusnya kau rawat             

Kau timang             

Kau nina bobokan             

Kau hangatkan dalam peluk dekap malammu             

Kau susui dari seorang ibu yang terhormat             

Hingga aku tak berdiri di sini 

Tiba-tiba seorang anak kecil datang menghampiri

Merasa iba dengan sang nenek

Ada tiga ribu rupiah dalam bentuk recehan

Tangannya yang mungil merogoh saku

 Seragam putih merah masih melekat di tubuhnya

Ini untukmu nek!

 Nenek itu terharu sambil mengucurkan air mata dia bertanya

Apa yang dapat aku balas untuk kebaikanmu, cucuku?

Dengan lugunya anak kecil itu berkata

Nek doakan saya jadi anak yang pintar dan kaya raya 

Nenek itupun berdoa sambil bercucuran air mata

Bukan lagi sebagai tanda keharuan

Tapi rasa kesedihan

Betapa banyaknya orang kaya yang tak berhati

Kalau begitu cucuku, aku tak membiarkanmu menjadi kaya! 

Si anak  pergi tanpa tahu apa makna ucapan tadi

Tangan mungilnya melambai

Kegembiraan tergambar di wajahnya yang putih polos

Karena dia sudah bertemu dengan seorang malaikatnya                 

Balikpapan,23 Juli 2007 /24.00 WITA 

Malam yang penuh ilham. Diangkat dari kisah nyata yang dialami oleh anakku tercinta Farah.


2 Komentar

Unsur-unsur Intrinsik Novel

Unsur-unsur sebuah karya sastra merupakan pembangun yang menjadi tolak ukur sebuah karya sastra. Secara jelas unsur intrinsik merupakan landasan atau dasar di dalam menganalisa seperti yang dijelaskan beberapa ahli.

        Berdasarkan pendapat beberapa ahli maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud unsur intrinsik adalah hal-hal yang membangun sebuah karya sastra dari dalam, yang meliputi tema, penokohan, alur/plot, latar/setting, sudut pandang (pusat pengisahan) gaya bahasa, dan amanat.

   v    Tema dan amanat    

          Menurut pendapat Saad (1967:185), tema adalah persoalan pokok yang menjadi pikiran pengarang, di dalamnya terbayang pandangan hidup dan cita-cita pengarang.Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa tema adalah pokok pembicaraan dalam sebuah cerita yang paling banyak menimbulkan konflik.

Jika permasalahan yang diajukan dalam cerita diberi jalan keluarnya oleh pengarang, maka jalan keluar itulah yang disebut amanat. Amanat yang terdapat dalam karya sastra tertuang secara implisit. Secara implisit yaitu jika jalan keluar atau ajaran moral itu disiratkan dalam tingkah laku tokoh menjelang cerita berakhir. Sudjiman (1986:35)

Amanat secara eksplisit yaitu jika pengarang pada tengah atau akhir cerita menyampaikan seruan, saran, peringatan, nasihat, anjuran, larangan dan sebagainya, berkenaan dengan gagasan yang mendasari cerita itu.

   v    Alur/plot                                                                  Menurut Stanton (1965:14) plot adalah cerita yang berisi    urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Peristiwa-peristiwa cerita dimanifestasikan lewat perbuatan, tingkah laku, dan sikap tokoh-tokoh (utama)cerita.                                                                                               

        Peristiwa, Konflik, dan Klimaks     

         Peristiwa, konflik, dan klimaks merupakan tiga unsur yang amat esensial dalam pengembangan sebuah plot cerita. Menariknya sebuah cerita karena adanya ketiga unsur tersebut.       

Peristiwa

         Peristiwa dapat diartikan sebagai peralihan dari satu keadaan ke keadaan yang lain (Luxemburg dkk,1992:150). Berdasarkan pengertian itu, kita akan dapat membedakan kalimat-kalimat tertentu yang menampilkan peristiwa dengan yang tidak. Misalnya antara kalimat yang mendeskripsikan tindakan tokoh dengan kalimat yang mendeskripsikan ciri-ciri fisik tokoh. Peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam sebuah karya fiksi pastilah banyak sekali, namun tidak semua peristiwa tersebut berfungsi sebagai pendukung plot. Itulah sebabnya, untuk menentukan peristiwa-peristiwa fungsional dengan yang bukan diperlukan penyeleksian, atau tepatnya analisis peristiwa.   

Konflik  

         Konflik mengacu pada pengertian sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan  yang terjadi dan atau dialami oleh tokoh(-tokoh) cerita, yang jika tokoh(-tokoh) itu mempunyai kebebasan untuk memilih, ia (mereka) tidak akan memilih peristiwa itu menimpa dirinya (Meredith & Fitzgerald, 1972:27). Konflik adalah sesuatu yang dramatik, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan. Dalam kehidupan nyata konflik merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan.

Namun, dalam sebuah cerita , tanpa adanya masalah yang memicu adanya konflik, dapat berarti ”tak akan ada cerita, tak akan ada plot”. Peristiwa kehidupan baru menjadi cerita (plot) jika memunculkan konflik, masalah yang sensasional, bersifat dramatik, dan karenanya menarik untuk diceritakan.

Peristiwa dan konflik biasanya berkaitan erat, dapat saling menyebabkan terjadinya satu dengan yang lain, bahkan konflik pun hakikatnya merupakan peristiwa. Ada perstiwa tertentu yang dapat menimbulkan konflik atau bahkan sebaliknya. Bentuk konflik sebagai bentuk kejadian dapat dibedakan ke dalam dua kategori: konflik fisik dan konflik batin.

Konflik fisik (eksternal) adalah konflik yang terjadi antara seseorang tokoh dengan sesuatu di luar dirinya, mungkin dengan tokoh lain atau dengan alam. Misalnya, konflik dan atau permasalahan yang dialami  seorang tokoh akibat adanya banjir besar, gunung meletus, kemarau panjang, dan sebagainya. Konflik sosial, sebaliknya adalah konflik yang disebabkan oleh adanya kontak sosial antarmanusia, atau masalah-masalah yang muncul akibat hubungan antarmanusia. Konflik sosial berupa masalah peperangan, perburuhan, atau kasus-kasus hubungan sosial lainnya.

      Konflik batin (internal) adalah konflik yang terjadi dalam hati, jiwa seorang tokoh (atau tokoh-tokoh) cerita. Jadi ia merupakan konflik yang dialami manusia dengan dirinya sendiri, ia merupakan permasalahan intern seorang manusia. Misalnya, hal itu terjadi akibat pertentangan antara dua keinginan, keyakinan pilihan yang berbeda, harapan-harapan, atau masalah-masalah lainnya.Dapat disimpulkan bahwa beberapa konflik di atas saling berkaitan, saling menyebabkan terjadinya satu dengan yang lain, dan dapat terjadi secara bersamaan.     

Klimaks 

        Konflik dan klimaks merupakan hal yang amat penting dalam struktur plot, keduanya merupakan unsur utama pada karya fiksi. Konflik demi konflik, baik internal maupun eksternal, jika mencapai titik puncak menyebabkan terjadinya klimaks. Dengan demikian, terdapat kaitan erat dan logis antara konflik dengan klimaks. Klimaks dimungkinkan ada dan terjadi jika ada konflik. Namun, tidak semua konflik harus mencapai klimaks  ̶  hal itu mungkin sejalan dengan keadaan bahwa tidak semua konflik harus mempunyai penyelesaian. Masalah itu harus dilihat apakah konflik itu merupakan konflik utama ataukah konflik (-konflik) tambahan  ̶  sebuah konflik yang lebih disebabkan, dialami, dan dilakukan oleh tokoh (-tokoh) tambahan. Sebuah konflik akan menjadi klimaks atau tidak (diselesaikan atau tidak), dalam banyak hal dipengaruhi oleh sikap, kemauan, dan tujuan pokok pengarang dalam membangun konflik sesuai dengan tuntutan dan koherensi cerita.

Klimaks, menurut Stanton (1965:16), adalah saat konflik telah mencapai tingkat intensitas tertinggi, dan saat (hal) itu merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari kejadiannya. Artinya, berdasarkan tuntutan dan kelogisan cerita, peristiwa dan saat itu memang harus terjadi, tidak boleh tidak. Klimaks merupakan titik pertemuan antara dua (atau lebih) hal (keadaan) yang dipertentangkan dan menentukan bagaimana permasalahan (konflik itu) akan diselesaikan. Sebagai bahan perhatian dan pertimbangan, klimaks (utama) sebuah cerita akan terdapat pada konflik utama, dan hal itu akan diperani oleh tokoh (-tokoh) utama cerita.

Pembedaan Plot  

Berdasarkan  waktu kejadian terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam karya fiksi, maka plot dapat dibedakan menjadi dua kategori.Yang pertama plot lurus, maju (progresif), sedangkan yang kedua plot sorot balik, mundur ,flash-back, atau dapat juga disebut sebagai regresif.   

Plot Lurus, Progresif. Plot sebuah novel dikatakan progresif jika peristiwa-peristiwa yang dikisahkan bersifat kronologis, peristiwa (-peristiwa) yang pertama diikuti oleh (atau: menyebabkan terjadinya) peristiwa-peristiwa yang kemudian. Atau secara runtut cerita dimulai dari tahap awal (penyituasian, pengenalan, pemunculan konflik), tahap tengah (konflik meningkat, klimaks), dan akhir (penyelesaian). Jika dituliskan dalam bentuk skema, secara garis besar plot progresif tersebut akan berwujud sebagai berikut:   

        A ——- B  ——-C  ——-D——-E   

 Simbol A melambangkan tahap awal cerita, B-C-D melambangkan kejadian-kejadian berikutnya, tahap tengah, yang merupakan inti cerita, dan E merupakan tahap penyelesaian cerita. Oleh karena kejadian-kejadian yang dikisahkan bersifat kronologis—yang secara istilah berarti sesuai dengan urutan waktu – plot yang demikian disebut juga sebagai plot maju, progresif.Plot Sorot-balik, Flash-back. Urutan kejadian yang dikisahkan dalam karya fiksi tidak bersifat kronologis, cerita tidak dimulai dari tahap awal, melainkan mungkin dari tahap tengah atau bahkan tahap akhir, baru kemudian tahap awal cerita dikisahkan. Karya yang berplot jenis ini langsung menyuguhkan adegan-adegan konflik, bahkan barangkali konflik yang telah meruncing. Padahal pembaca belum lagi dibawa masuk ke situasi dan permasalahan yang menyebabkan terjadinya konflik dan pertentangan itu.

Plot Campuran.Barangkali tidak ada novel yang secara mutlak berplot lurus-kronologis atau sebaliknya sorot-balik. Secara garis besar plot sebuah novel mungkin progresif, tetapi di dalamnya betapapun kadar kejadiannya, sering terdapat adegan-adegan sorot-balik. Demikian pula sebaliknya. Bahkan sebenarnya, boleh dikatakan tak mungkin ada sebuah cerita pun yang mutlak flash-back. Hal itu disebabkan jika yang demikian terjadi, pembaca akan sangat sulit, untuk dikatakan tidak bisa, mengikuti cerita yang dikisahkan yang secara terus-menerus dilakukan secara mundur.


Tinggalkan komentar

PANDUAN KERJA MEMBACA NOVEL

Setelah membaca novel remaja terjemahan, kerjakanlah hal-hal berikut :

  • I. Buatlah sinopsis !
  • II. Analisis unsur-unsur instrinsiknya, seperti :
  • Tema

Tema adalah gagasan atau amanat utama yang menjalin struktur isi cerita.

  • Tokoh dan perwatakan                              

No.

Tokoh

Peran

Watak

  • Alur/Plot

Alur/plot merupakan pola pengembangan cerita yang terbentu oleh hubungan sebab akibat. Berdasarkan periode pengembangannya, terbagi menjadi :

  • 1. Alur maju (normal) : (1)-(2)-(3)-(4)-(5)
  • 2. Alur sorot balik (mundur) : (5)-(4)-(3)-(2)-(1)
  • 3. Alur maju-mundur : (4)-(5)-(1)-(2)-(3)

Periode tersebut meliputi :

  • 1. pengenalan situasi cerita,babak awal
  • 2. pengungkapan peristiwa
  • 3. menuju pada adanya konflik
  • 4. puncak konflik
  • 5. penyelesaian
  • Latar/seting

Latar/seting meliputi tempat,waktu,dan budaya.

Contoh latar danau pada waktu sore hari :

          Ia bergerak ke danau itu. Dilihatnya burung-burung sore beterbangan di pucuk-pucuk pohon yang lebat di dekat rumahnya. Ada sindiran halus meraba-raba dinding hatinya yang kekar. Sedangkan burung-burung saja ada sarangnya dan sarang tempatnya untuk berbalik pulang. Sedangkan angin dan awan punya arah yang berketetapan pergi setiap hari. Sedangkan aku? Ia benar-benar tersudut saat membatin di tepi danau menatap hari yang kian gelap.

                                              

  • Point of view atau sudut pandang, yaitu posisi pengarang dalam membawakan cerita. Ada dua macam sudut pandang, yaitu :
  • a. berperan langsung sebagai tokoh yang terlihat dalam cerita yang

disebut gaya Aku-an.

  • b. hanya sebagai pihak ketiga yang disebut gaya Dia-an.
  • Amanat/nilai-nilai

Amanat,yaitu pesan yang ingin disampaikan pengarang. Pesan ini bisa berupa harapan, nasihat, kritik, dan sebagainya.

Cara membuat laporan hasil membaca untuk I dan II :

Contoh sampul depan

ANAK PERAWAN

DISARANG PENYAMUN

                    PENGARANG    :   S. TAKDIR ALISYAHBANA

                    PENERBIT         :  DIAN RAKYAT

                   TEBAL BUKU    :  126 HALAMAN

                                                     DIKERJAKAN OLEH   :   AISYAH

                                                     KELAS                             :  VIII-5

Sinopsis Novel

Anak Perawan di Sarang Penyamun

Pengarang : S. Takdir Alisyahbana

————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————

 

Unsur-unsur Instrinsik Novel

Anak Perawan di Sarang Penyamun

  • Tema

—————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————

  • Tokoh dan Perwatakan

—————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————

  • Alur/Plot

Novel yang berjudul Anak Perawan di Sarang Penyamun memiliki alur …. Hal ini dapat dijelaskan dengan periode pengembangan cerita sebagai berikut :

—————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————

  • Latar/Seting

        Pada siang hari di hutan

        ————————————————————————————–

        ————————————————————————————–

  • Sudut Pandang

Pada novel yang berjudul Anak Perawan di Sarang Penyamun posisi pengarang sebagai …..

—————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————

  • Amanat/Nilai-nilai

Pesan yang dapat diambil dari novel yang berjudul Anak Perawan di Sarang Penyamun adalah …..

 

 

 

            

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.